Minggu, 20 Juli 2014

PRINSIP-PRINSIP MORAL UNTUK MEMBANGUN PRIBADI KUAT



PRINSIP-PRINSIP MORAL UNTUK MEMBANGUN PRIBADI KUAT

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Di dalam kehidupan masyarakat arti sebuah moral sangat penting. Dalam hal ini orang dapat dikatakan bermoral apabila dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan yang berlaku. Moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.

Dalam pandangan umum, ada prinsip moral yang dianggap penting oleh  masyarakat. Misalnya, sifat suka memaafkan, kejujuran, cinta kasih, penghargaan akan kehidupan, dan pengendalian diri. Prinsip yang kita pegang tentu akan mempengaruhi tingkah laku kita, dan hubungan kita dengan orang lain.

Moral seseorang merupakan pondasi utama kehidupannya. Moral akan membimbing tingkah laku seseorang, memberi warna, dan akan ikut membentuk serta kebiasaan hidup seseorang. Moral seseorang juga akan membentuk disiplin pribadi yang bersangkutan. Moral yang kuat akan membentuk pribadi yang kuat, disiplin pribadi yang kuat, dan memberi arah kehidupan pribadi yang jelas.

RUMUSAN MASALAH

1.      Apa itu moral?
2.      Apa saja sikap-sikap untuk membangun moral yang kuat?
3.      Dari mana seseorang dapat menemukan pendidikan moral?

TUJUAN

1.      Untuk bertindak sesuai dengan apa yang di yakini, sebagai yang benar
2.      Untuk mengetahui apa saja sikap-sikap moral yang baik untuk pribadi yang kuat


PEMBAHASAN

A.    ARTI MORAL

Moral (moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki motral jika ia ingin di hormati oleh sesamanya. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia, apabila yang dilakukan seseorang yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku dimasyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakat, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.

Moral adalah satu set tata-nilai yang diyakini dan dianut seseorang atau sekelompok orang untuk menuntun segala tingkah laku dalam kehidupannya. Moral seseorang akan mewarnai seluruh tingkah laku dan penampilan individu maupun masyarakat. Akan mudah terbaca seseorang yang baik atau tidak dari tingkah laku dan penampilanya. Moral akan menunjukan mana yang baik/mulia dan mana yang buruk/hina. Nilai-nilai yang ada pada manusia disusun menurut urutan tertentu berdasarkan kualitas kebaikan dan keburukannya, sesuai dengan hati nuraninya.

B.     SIKAP-SIKAP UNTUK MEMBANGUN KEKUATAN MORAL

1.      KEJUJURAN

Dasar setiap usaha untuk menjadi orang yang kuat secara moral adalah kejujuran. Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak bisa maju selangkah pun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri.

Tanpa kejujuran keutamaan-keutamaan moral lainnya juga akan kehilangan. Bersikap baik terhadap orang lain tanpa kejujuran adalah kemunafikan. Begitu juga sikap-sikap terpuji menjadi sarana kelicikan dan penipuan apabila tidak berakar dalam kejujuran yang bening.

2.      NILAI-NILAI OTENTIK

Otentik berarti asli, manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, dengan kepribadian yang sebenarnya. Sedangkan manusia yang tidak otentik adalah orang yang seakan-akan tidak mempunyai kepribadian sendiri melainkan terbentuk oleh peranan yang di timpakan kepadanya oleh masyarakat.

Untuk menguji keotentikan cita-cita perlu percobaan-percobaan, contohnya ia memasuki lingkungan yang lain dengan nilai-nilai yang lain yang tanggung jawab dan inisiatifnya di tantang dan di beri kesempatan untuk menunjukkan inisaitifnya dengan tidak terlalu diatur dsb.

Tentu nilai-nilai dapat berkembang. Orang harus mengerti apa yang sebenarnya di nilainya tinggi dan apa yang sebenarnya tidak disukainya. Ia harus berani untuk menunjukkan diri secara otentik terhadap lingkungannya. Jadi ia tidak lagi menunjukkan diri sebagaimana ia mengira bahwa lingkungan mengharapkan ia menunjukkan diri, melainkan sesuai dengan kediriannya yang sesungguhnya. Jadi ia berani muncul di panggung masyarakat, ia sendiri, dan bukan jiplakan harapan masyarakat yang sering sekali juga bukan harapan masyarakat, melainkan apa yang dibayangkannya bahwa di harapkan masyarakat dari padanya.

3.      KESEDIAAN UNTUK BERTANGGUNG JAWAB

Berarti kesediaan untuk melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik mungkin. Bertanggung jawab berarti suatu sikap terhadap tugas yang membebani kita. Karena kita terlibat pada pelaksanaanya, perasaan-perasaan seperti malas, takut tidak mempunyai tempat untuk berpijak. Kita akan melaksanakaan dengan sebaik mungkin, meskipun di tuntut pengorbanan, kurang menguntungkan atau di tentang orang lain. Tugas bukan hanya sekedar masalah tetapi tugas dapat kita rasakan sebagai sesuatu yang mulia yang harus kita pelihara, kita selesaikan dengan baik. 

Kesediaan untuk bertanggung jawab demikian adalah tanda kekuatan bathin yang sudah mantap.

4.      KEMANDIRIAN DAN KEBERANIAN MORAL

Kemandirian moral berarti bahwa kita tak pernah ikut-ikutan saja dengan berbagai pandangan moral dalam lingkungan kita, melainkan selalu membentuk penilaian dan pendirian sendiri dan bertindak sesuai dengannya.

Sikap mandiri pada hakekatnya merupakan kemampuan untuk selalu membentuk penilaian terhadap suatu masalah moral. Kemandirian merupakan keutamaan intelektual dan koqnitif. Sebagai ketekatan dalam bertindak sikap mandiri di sebut keberanian moral.

Keberanian moral menunjukkan diri dalam tekat untuk tetap mempertahankan sikap yang telah diyakini sebagai kewajiban, walaupun tidak disetujui atau secara aktif dilawan oleh lingkungan.

Orang yang berani secara moral akan membuat pengalaman yang menarik. Setiap kali ia berani mempertahankan sikap yang diyakini, ia merasa lebih kuat dan berani dalam hatinya, dalam arti bahwa ia semakin dapat mengatasi perasaan takut dan malu yang sering mencekam dia. Ia merasa lebih mandiri. Ia memberikan semangat dan kekuatan berpijak bagi mereka yang lemah, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

5.      KERENDAHAN HATI

Kerendahan hati tidak berarti bahwa kita merendahkan diri, melainkan bahwa kita melihat diri seadanya. Kerendahan hati adalah kekuatan bathin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Ia tidak mengambil posisi berlebihan yang sulit dipertahankan kalau ditekan. Ia tidak takut bahwa kelemahannya ketahuan. Ia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak meyembunyikannya.

Tanpa kerendahan hati keberanian moral mudah menjadi kesombongan atau kedok untuk menyembunyikan. Orang yang rendah hati sering menujukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul harus diberikan perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu berani untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung jawabnya.

6.      REALISTIK DAN KRITIS

Tanggung jawab moral menuntut sikap yang realistik. Apa yang menjadi kebutuhan orang dan masyarakat yang real hanya dapat di ketahui dari realitas itu sendiri.

Sikap realistik mesti berbarengan dengan sikap kritis. Tanggung jawab moral menuntut agar kita terus menerus memperbaiki apa yang ada supaya lebih adil, sesuai dengan martabat manusia, dan supaya orang-orang dapat lebih bahagia. Prinsip-prinsip moral dasar ialah norma kritis yang kita letakkan pada keadaan.

Sikap kritis perlu juga terhadap segala macam kekuatan, kekuasaan dan wewenang dalam masyarakat. Kita tidak tunduk begitu saja, kita tidak dapat dan tidak boleh menyerahkan tanggung jawab kita kepada mereka. Begitu pula segala macam peraturan moral tradisional perlu disaring dengan kritis. Peraturan-peraturan itu pernah bertujuan untuk menjamin keadilan dan mengarahkan hidup dalam masyarakat kepada kebahagiaan. Tetapi apakah sekarang masih berfungsi demikian ataukah telah menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang justru tidak adil dan malahan membawa penderitaan.

Tanggung jawab moral yang nyata menuntut sikap realistik dan kritis, pedomannya ialah untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu keadaan masyarakat yang membuka kemungkinan lebih besar bagi anggota-anggota untuk membangun hidup yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia

DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar